Selasa, 17 November 2015

Pemenang Story Telling Contest 2015

DAFTAR PERINGKAT
STORY TELLING CONTEST 2015
Pering kat Nama Siswa Sekolah Rata-rata Jumlah Nilai Total
Kom Eks DP
1 Shannon Malena S. SMP Kalam Kudus Ska 88,8 90,2 88,7 626
2 Anyasefria R.A. SMP Negeri 1 Surakrta 88,8 89,1 88,0 622
3 Bernadetha M. SMP Bintang Laut 87,8 89,0 87,9 618
4 Lintang P. Utamingtyas SMP Marsudirini Surakarta 86,7 86,3 85,6 605
5 Fatimah Aqila  SMP Islam Diponegoro 86,2 86,6 85,1 603
6 Ardhia Sekar SMP Negeri 2 Ska 85,7 86,2 85,3 601
7 Kadya Aulia Rizki SMP Batik Ska. 84,2 86,7 82,1 595
8 Khotijah Aliifia R. SMP Ta'mirul Surakarta 83,7 85,4 85,6 593
9 Intan Luthfiana A. SMP Negeri 9 Surakarta 85,3 84,6 82,8 592
10 Mahadewi Antika S. SMPI Al Abidin Ska 84,5 85,7 81,6 592
11 laura Alsan Nova Ch. SMP Kristen 1 Surakarta 85,0 83,1 84,9 589
12 Grace Adriasti SMP Negeri 4 Surakarta 81,2 85,6 85,0 585
13 Synthia Marsita R. SMP Muh 7 Ska 83,3 83,6 83,0 584
14 Almahdi Dwita Purnama SMP Negeri 3 Surakarta 82,2 83,8 84,8 583
15 Mutia Rahman Azzahra SMP Muh PK Surakrta 82,0 84,1 74,0 572
16 Shinta Veronica SMP Negeri 6 Ska 80,2 82,3 82,8 570
17 Tesalonika Firnanda SMP Warga Surakrta 79,3 80,3 80,1 559
18 Putri Adela Djodi SMP Negeri 11 Surakarta 77,7 76,7 75,7 539
19 Fauzan Bayu Hera S. SMP Negeri 19 Surakarta 76,7 75,8 79,0 536
20 Ailza Zevenlima Dilivia SMP Negeri 8 Surakarta 78,2 76,7 69,1 534
21 Theofillus Dian Gegana SMP Negeri 24 Surakarta 75,7 76,3 77,0 533
22 Adetya Rahmawati SMP Negeri 12 Surakarta 75,3 75,4 75,8 528
23 Frisyia Luna S. SMP Muh. 4 Ska 76,2 74,3 75,3 527
24 Carissa Earlene S. SMP Kanisius 1 Ska 74,5 74,1 76,4 522
25 Layla Anjani SMP Negeri 5 Ska 74,0 73,1 71,3 513
26 H.T. Bulan I.M. SMP negeri 7 Surakarta 72,7 73,2 73,7 511
27 Vincensius Gilang P. SMP Negeri 13 Surakarta 73,7 73,4 69,6 511
28 Alysia Delly Rasendria SMP Negeri 10 Surakarta 70,5 76,1 70,8 511
29 Yulia Alramadhani S.N. SMP Muh 1 Ska 70,7 72,9 73,6 504
30 Putriani Rofiqoh SMP Al-Muayyad Ska 69,5 69,8 74,8 493
31 Zahra Khoirani Yudhanti SMP Negeri 25 Ska 69,0 71,7 70,2 492
32 Irene Nawangsari S.W. SMP kanisius 2 Surakarta 69,2 68,2 71,4 484
33 Aisyah Almumtahanah  SMP Muh 8 Ska 68,5 70,0 66,3 482
34 Sarah Alyanita SMP Al Islam Surakarta 66,8 70,7 68,3 481
36 Devina Anggraini  SMP Negeri 21 Surakarta 65,8 66,1 72,3 468
37 Desi Ana Indra  SMP kristen 5 Ska 66,0 66,9 66,6 465
38 Seftia Bella I.R. SMP Negeri 23 Surakarta 64,3 65,2 69,1 458
39 Nabilah Aulia G. SMP Muh. 10 Surakarta 66,3 64,1 61,8 453
40 Fadila Dwi R.N. SMP Negeri 26 Surakarta 64,2 63,7 66,4 450
41 Arya Kusumadewa SMP Kasatriyan 1 Ska 64,3 63,8 64,4 449
42 Sekar Arrum SMP Negeri 14 Ska 64,3 63,3 64,1 447
43 Bethari Ayu Rahma K. SMP Advent Ska 63,2 63,4 58,9 439
44 Fahmi Fahrezi D. SMP Negeri 20 Surakrata 59,5 61,7 58,4 422
45 Nur Salsabila SMP Negeri 22 Ska 0
Surakarta, 17 November 2015
Ketua MGMP B, Inggris Dewan Juri
ttd ttd
Sigit Yulianto, S.Pd. Theandin Kurnias, S.Pd.
NIP. 197107011999031008 SMA Batik 2 Ska

Genre

Genre

Dr. Tri Wiratno, M.A.
Drs. Riyadi Santosa, M.Ed., Ph.D.
Genre adalah istilah teknis yang digunakan di bidang-bidang seperti musik, film, karya sastra, folklor, antropologi, retorika, dan linguistik. Pengertian genre untuk suatu bidang berbeda dengan pengertian genre untuk bidang yang lain.
Pada modul ini Anda akan mempelajari konsep genre secara umum di bidang linguistik dan konsep genre yang digunakan untuk mengacu kepada jenis-jenis teks. Untuk itu, setelah Anda menyelesaikan modul ini, diharapkan Anda dapat:
(1) menjelaskan konsep genre,
(2) menjelaskan genre sebagai jenis teks.

PENDAHULUAN
7.2 Pengantar Linguistik Umum l
Kegiatan Belajar 1
Konsep Genre
Di dalam kegiatan belajar ini, Anda akan mempelajari dua subpokok bahasan, yaitu konsep genre dan genre sebagai proses sosial. Mula-mula Anda akan diajak untuk melihat lebih jauh definisi genre, dan setelah dihadapkan pada genre sebagai proses sosial, Anda akan diarahkan pada definisi yang diadopsi pada modul ini.

A. Pengertian Genre
Istilah genre berasal dari bahasa Latin genus, dan telah lama digunakan di bidang-bidang seperti sastra, seni, film, musik, retorika, dan folklor (Swales, 1990: 33-46; Breure, 2001). Para tokoh pada
Filsafat Klasik menggunakan istilah genus (genre) untuk menyatakan klasifikasi terhadap sesuatu. Di kemudian hari, pada Abad ke-18 dan 19, istilah itu diadopsi oleh berbagai bidang, antara lain oleh Charles
Darwin di bidang biologi, untuk menjelaskan klasifikasi pada teori evolusinya yang dituangkan ke dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species (1895) (Breure, 2001: 3-4).

Di bidang ilmu bahasa, klasifikasi seperti itu diterapkan antara lain pada tipologi bahasa. Definisi genre bervariasi, bergantung pada jaman dan bidangbidang yang diacu tersebut. Di bidang sastra, misalnya, genre hanya digunakan secara khusus untuk memilah-milahkan jenis-jenis karya sastra seperti puisi, novel, drama, dan esei sastra. Atau, di bidang retorika, genre secara tradisional digunakan untuk mengacu pada kategori retorika deskripsi, narasi, eksposisi, dan argumentasi (Lee, 2001: 6).

Di bidang linguistik, oleh para ahli bahasa yang memusatkan diri pada studi etnografi (misalnya Hymes, 1972) dan linguistik fungsional (misalnya Malinoski dalam Hasan, 1985; Martin, 1986; Martin, 1992),
genre dikembangkan dan diinterpretasikan kembali secara lebih luas untuk menunjuk tidak hanya kepada karya-karya sastra atau kategori retorika, tetapi juga kepada konteks budaya yang melatarbelakangi
munculnya jenis-jenis teks seperti percakapan telepon, interview,


B. Genre sebagai Proses Sosial
Pengertian genre untuk mengacu kepada jenis-jenis teks adalah pengertian genre secara sempit. Secara lebih luas, genre diasosiasikan dengan konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya teks. Jenisjenis
teks tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi lahir pada lingkup dan latar belakang budaya tertentu melalui proses sosial yang panjang.
Dengan demikian, jenis teks tertentu hanya lahir pada budaya tertentu dan tidak ditemukan pada budaya lain. Sebagai contoh, teks pasrah manten, hanya lahir pada budaya Jawa, tidak pada budaya lain. Oleh
sebab itu, teks mempunyai tujuan dan fungsi sosial sesuai dengan konteks budaya yang ada.
Genre berkaitan dengan register.

Pada Modul 6, Anda telahmempelajari register sebagai variasi bahasa yang terjadi pada konteks situasi tertentu. Akan tetapi, genre berbeda dengan register. Perbedaan di antara keduanya dapat dijelaskan bahwa register berkaitan dengan dan dipengaruhi oleh konteks situasi yang tergambar pada unsur unsur
internal sebuah teks pada saat dan di tempat bahasa digunakan, sedangkan genre selain meliputi register (karena genre direalisasikan oleh register) juga berkaitan dengan konteks budaya yang
menunjukkan unsur-unsur eksternal teks tersebut (Lee, 2001).

Secara lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa genre adalah register ditambah tujuan yang lebih global. Genre tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh partisipan dengan bahasa, tetapi juga bagaimana partisipan tersebut mengorganisasikan peristiwabahasa melalui tahap-tahap pembabakan yang telah dikenal untuk mencapai tujuan tersebut (Bandingkan dengan Thompson, 2004: 42- 43; Lihat juga definisi operasional di bawah ini).

Dalam pengertiannya yang lebih luas, genre adalah organisasi atau sistem yang memformulasikan bentuk-bentuk bahasa untuk mengemban tugas atau fungsi sosial (Halliday & Hasan, 1989: 68, 108; Ventola, 1988: 51; Martin, 1986: 246: Martin, 1992: 546-547; Martin & Rose, 2003). Genre digunakan untuk melingkupi “each of the linguistically realized activity types which comprise so much of our culture” (Martin, 1985a: 250), sehingga genre merupakan manifestasi dari wawasan konteks kultural secara holistik.

Genre dapat bersifat statis dan dinamis sekaligus. Genre bersifat  statis karena genre sebagai jenis-jenis teks telah merupakan konvensi kebahasaan yang diterima di masyarakat. Salah satu ciri konvensi
tersebut adalah bahwa teks mempunyai tata organisasi dalam bentuk pembabakan (staging) atau struktur skematik (schematic structure) (Martin, 1992: 546-562), seperti “Pembukaan^Isi^Penutup”. Genre
bersifat dinamis karena genre sebagai jenis-jenis teks berubah dan berkembang sesuai dengan pergeseran fungsi sosial yang terjadi di masyarakat. Perkembangan genre tersebut ditandai oleh perubahan
pembabakan, sehingga sejumlah jenis teks yang tergolong ke dalam genre yang sama memungkinkan mempunyai pembabakan yang berbeda, meskipun dapat diprediksi bahwa struktur utamanya relatif
sama. Pembabakan yang berkembang itu oleh Hasan disebut SGP (Struktur Generik Potensial, Generic Structure Potential) (Halliday & Hasan, 1989). Bahkan, kedinamisan genre tidak saja bergeser dari
konvensi wacana yang dianut bersama di berbagai bidang (misalnya akademik dan professional), tetapi terdapat kecenderungan bahwa penulis ahli biasanya menciptakan struktur wacananya sendiri seiring
dengan perkembangan kepakarannya dan perkembangan bidangbidang yang dihadapi (Bhatia, 2004).

Untuk tujuan praktis pada modul ini, definisi genre yang diambil adalah definisi operasional yang ditawarkan oleh Martin, yaitu proses sosial yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap,
(a staged, goal-oriented social process) (Martin, 1985b; Martin, 1992). Dikatakan “sosial” karena orang menggunakan genre untuk berkomunikasi dengan orang lain; dikatakan “berorientasi kepada tujuan” karena orang menggunakan genre untuk mencapai tujuan komunikasi; dan dikatakan “bertahap” karena untuk mencapai tujuan tersebut, biasanya dibutuhkan beberapa tahap melalui pembabakan di dalam genre (Martin & Rose, 2003: 7-8).

Berdasarkan pada definisi di atas, genre suatu teks dapat diidentifikasi dari struktur teksnya, yakni  pembabakan yang menunjukkan bagaimana teks itu diorganisasikan, dan dari registernya, yakni bagaimana organisasi itu mencerminkan “konfigurasi makna” ideasional, interpersonal, dan tekstual (Halliday & Hasan, 1989: 38) sebagaimana dikenali dari unsur-unsur internalnya. Perbedaan genre suatu teks dengan genre teks yang lain dapat dilihat dari perbedaan struktur teks pada teks-teks tersebut, sedangkan perbedaan register teks yang satu dan teks yang lain dapat dianalisis dari perbedaan Medan, Pelibat, dan Moda. Perbedaanperbedaan tersebut secara linguistik menimbulkan perbedaan fungsi
sosial genre itu secara keseluruhan.

Telah dikemukakan bahwa teks mempunyai tujuan dan fungsi sosial. Misalnya, secara kultural teks eksposisi mempunyai tujuan dan fungsi sosial untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain
mengikuti gagasan atau melakukan tindakan sesuai dengan yang diusulkan di dalam teks tersebut. Tujuan dan fungsi sosial itu dicapai dengan memanfaatkan bentuk-bentuk lingual secara khusus, dan
bentuk-bentuk lingual itu tidak lain adalah ciri-ciri linguistik yang secara internal berada di dalamnya. Karena teks yang berbeda mempunyai tujuan dan fungsi sosial yang berbeda, bentuk-bentuk
linguistik yang dimanfaatkan di dalamnya pun berbeda.

Seperti telah Anda saksikan pada modul 5, diketahui bahwa setiap jenis teks memiliki struktur teks yang berbeda. Sebagai contoh, teks naratif memiliki struktur: “Orientasi^Komplikasi^Evaluasi^Resolusi^ Koda”; eksposisi memiliki struktur: “Pernyataan Tesis^Argumentasi^Reiterasi”; dan teks diskusi memiliki struktur:
“Pernyataan Isu^Argumentasi Mendukung^Argumentasi Menentang^Kesimpulan/Rekomendasi”. Selain dari struktur teksnya, dalam kerangka register, perbedaan jenis-jenis genre tersebut juga dapat dilihat dari bentuk-bentuk linguistik yang ada, yang pada gilirannya dapat menunjukkan fungsi sosial yang diemban (Wiratno, 2009).

Selanjutnya, uraian tentang jenis-jenis genre, ciri-ciri, dan fungsi sosialnya akan disajikan pada Kegiatan Belajar 2 (“Genre sebagai jenis Teks”) di bawah ini.
1) Jelaskan pengertian genre!
2) Berikan contoh bahwa genre dimaknai secara berbeda untuk bidang-bidang yang berbeda.


Kegiatan Belajar 2

Genre sebagai Jenis Teks

Pada Kegiatan Belajar 1, Anda telah mengetahui bahwa genre sebagai jenis teks tidak lahir begitu saja tetapi dipengaruhi dan dilatarbelakangi oleh konteks budaya pada masyarakatnya.

Pada Kegiatan Belajar 2 ini, Anda akan mengeksplorasi lebih jauh lagi genre yang dianggap sebagai jenis-jenis teks. Kali ini, Anda tidak akan diajak untuk mencari tahu cara teks lahir pada konteks budaya,
tetapi akan diajak untuk mengidentifikasi klasifikasi genre serta mengenali setiap jenis genre tersebut dari tata organisasi dan ciri-ciri linguistiknya.

A. Klasifikasi Genre

A.1 Genre Makro dan Genre Mikro

Di Kegiatan Belajar 1 sudah disebutkan bahwa terdapat peristiwakomunikasi yang disebut percakapan telepon, interview, layanan jualbeli, artikel jurnal, berita, dan sebagainya. Setiap jenis tersebut dapat
dikatakan sebagai genre percakapan telepon, genre interview, genre layanan jual beli, genre perkuliahan, genre artikel jurnal, genre review, demikian seterusnya. Nama-nama tersebut adalah nama-nama genre secara umum yang dikenal dengan genre makro (macro genre).

Terdapat genre lain yang lebih khusus yang disebut genre mikro (micro genre), yaitu: penceritaan (recount), prosedur (procedure), deskripsi (description), laporan (report), eksplanasi (explanation),
eskposisi (exposition), diskusi (discussion), dan eksplorasi (exploration). Di dalam sebuah genre makro, dimungkinkan terdapat genre mikro. Sebagai contoh, di dalam genre makro editorial dimungkinkan terdapat genre mikro eksplanasi dan diskusi; atau, di dalam genre makro iklan, dimungkinkan terdapat genre mikro deskripsi atau eksposisi. (Tentang genre makro dan genre mikro, lihat Martin, 1992; Martin & Rose, 2003: 7; Hyland, 2004: 28-30; Martin & White, 2005: 32-33). Namun demikian, genre-genre mikro tersebut dapat menjadi genre makro apabila genre tersebut digunakan untuk menamai jenis teks. Misalnya, sebuah teks akan diberi nama genre makro deskripsi apabila teks tersebut secara keseluruhan didominasi oleh deskripsi, dan deskripsi tidak hanya digunakan sebagai bagian dari teks tersebut.

A.2 Genre Faktual dan Genre Cerita

Kedelapan nama genre mikro di atas oleh Martin (1992: 562- 564) dikelompokkan ke dalam genre faktual (factual genre), sebagai lawan dari genre cerita (story genre). Genre faktual adalah genre yang dihasilkan berdasarkan kenyataan, yang meliputi: deskripsi, laporan, prosedur, penceritaan, eksplanasi, eksposisi, diskusi, dan eksplorasi.

Sementara itu, genre cerita adalah genre fiksi yang dihasilkan berdasarkan rekaan. Genre cerita meliputi penceritaan, anekdot (anecdote), eksemplum (exemplum), dan naratif (narrative).

A.2.1 Genre Faktual
Genre yang berbeda memiliki fungsi sosial, struktur teks, dan bentuk-bentuk linguistik yang berbeda. Berikut ini akan disajikan pengertian setiap genre di bawah genre faktual (kecuali genre eksplorasi), termasuk fungsi sosial, struktur teks, dan ciri-ciri linguistiknya. Uraian tentang hal itu secara lebih lengkap dapat dilihat misalnya pada: A Brief Introduction to Genre oleh MEDSP, 1989;
Factual Writing: Exploring and Challenging Social Reality oleh Martin, 1985b; Using Functional Grammar oleh Butt, et.al., 2000; Genre and Second Language Writing oleh Hyland, 2004; Kiat
Menulis Karya Ilmiah dalam Bahasa Inggris oleh Wiratno, 2003.

A.2.1.1 Deskripsi
Deskripsi merupakan jenis teks yang menguraikan what something is as it is atau what something does as it does. Deskripsi berkenaan dengan sifat kekhususan dari sesuatu yang diuraikan itu dalam hal bentuknya, ukurannya, warnanya, rasanya, dan sifat-sifat fisiknya yang lain. Selain itu, deskripsi menunjukkan bagian-bagian dalam hubungannya dengan keseluruhan dari sesuatu yang dimaksud.
Fungsi sosial teks deskripsi adalah untuk menguraikan sesuatu secara individual menurut ciri-ciri fisiknya. Untuk itu, struktur teks yang digunakan untuk mengorganisasikannya adalah “The Thing to be
Described^Parts to be Described”. Sementara itu, ciri-ciri linguistic yang menonjol adalah:
(1) Teks deskripsi memanfaatkan partisipan yang unik/individual, tetapi biasanya bukan partisipan manusia (kecuali apabila yang dideskripsikan adalah manusia), karena pokok pembicaraan adalah hal yang dipaparkan, bukan manusia yang memaparkan.
(2) Teks deskripsi didominasi oleh penggunaan Simple Present Tense untuk menyatakan keadaan faktual hal yang dideskripsikan.
(3) Teks deskripsi lebih banyak memanfaatkan kata kerja relasional dan material. Selain untuk menyatakan ciri-ciri fisik tentang hal yang dideskripsikan, kata kerja relasional juga dapat digunakan
untuk membuat definisi atau identifikasi.
(4) Pada teks deskripsi, kata sifat merupakan alat yang bagus untuk melukiskan bentuk, ciri-ciri, dan keadaan fisik dari pokok yang dipaparkan.
(5) Teks deskripsi mencerminkan hubungan bagian dan keseluruhan serta bagian dan bagian dalam keseluruhan tersebut.

(7-1) Contoh Teks Deskripsi:
The Thing to
be Described
Parts of the
Thing to be
Described

WELCOME TO SYDNEY
Sydney is Australia’s oldest, largest, and liveliest state capital with a population of over 3,000,000. It is a
colourful, modern city but it has also a natural beauty with green parkland and perhaps the world’s most
beautiful deep-water harbour.
As well as being famous for its modern buildings and roads, there are many places of historical interest in
Sydney. For example, Mrs. Macquarie’s Chair, the area called the Rocks dating back to the early nineteenth
century, and the attractive terrace houses of Paddington, are all close to the harbour and the city centre.
Sydney has many attractions which tourists can enjoy–surf beaches, a zoo, Koala Bear Park, and an Opera House which is situated at the water’s edge. Some say that this is one of the most beautiful examples of  modern architecture in the world. For further entertainment there is a wide variety of restaurants, theaters, nightclubs, sports, and social clubs.
There is also a very efficient network of communications within the city, including an underground railway, buses and taxis. Sydney has a very pleasant, temperate climate. The average temperature in summer is 21.7°C, and in winter 12.6°C.
There are few places in the world where a visitor can find such a rich variety of natural and historical beauty, entertainment and culture. Ask any Sydneysider about his city and he’ll say there’s no place like it.
(Diambil dari Abbs & Freebain, 1985)

Pada contoh teks deskripsi (7-1) di atas, yang diuraikan adalah kota Sydney, dan bagian-bagian yang dimaksud adalah sifat-sifat khusus dan keadaan kota tersebut yang meliputi: (1) sydney sebagai
ibukota negara bagian (state capital), (2) sydney sebagai kota modern yang beragam (colourful, modern city), (3) keindahan alami (natural beauty), (4) bangunan dan jalan modern (modern buildings and
roads), (5) sejumlah tempat yang menarik (many places of interest), (6) sejumlah atraksi (many attractions), (7) jaringan komunikasi yang efisien (efficient nework of communications), dan (8) iklim yang sejuk dan nyaman (pleasant temperate climate).

A.2.1.2 Laporan
Teks laporan adalah teks yang menguraikan the way things are as they are atau the way things do as they do. Teks laporan berkenaan dengan pengelompokan sesuatu ke dalam suatu kelas atau subkelas.
Berbeda dengan teks deskripsi yang menunjukkan kekhususan sesuatu yang dideskripsikan tanpa membandingkannya dengan sesuatu yang lain, teks laporan menunjukkan keumuman dengan menempatkan sesuatu yang dilaporkan itu dalam kelasnya dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain. Dengan demikian, teks laporan berkenaan dengan hubungan antara kelas dan subkelas.
Teks laporan mempunyai fungsi sosial untuk membuat klasifikasi mengenai sesuatu. Dengan klasifikasi, hal yang dilaporkan itu dapat digolongkan ke dalam kelas atau subkelas tertentu. Adapun struktur teks yang digunakan adalah “The Thing to be Reported^ Classes/Subclasses”. Dipihak lain, ciri-ciri linguistik teks laporan adalah antara lain:
(1) Teks laporan memanfaatkan partisipan umum, tetapi biasanya bukan partisipan manusia (kecuali apabila yang dilaporkan adalah manusia), karena pokok pembicaraan adalah hal yang dilaporkan, bukan manusia yang membuat laporan.
(2) Teks laporan memanfaatkan Simple Present Tense untuk sesuatu yang masih ada, tetapi Simple Past Tense untuk sesuatu yang sudah tidak ada, misalnya dinosaurus.
(3) Teks laporan memanfaatkan kata kerja material dan relasional.
(4) Teks laporan tidak mengandung konjungsi temporal yang menyatakan urut-urutan waktu.
(5) Teks laporan mencerminkan hubungan yang bersifat hirarkis.

Pokok yang diuraikan mempunyai anggota-anggota yang berhubungan secara berjenjang. Pada contoh tentang komodo di bawah ini, komodo adalah anggota dari dragon, dan dragon adalah anggota dari binatang melata.

(7-2) Contoh Teks Laporan:
The Thing to
be Reported
Classes/
Subclasses

KOMODO DRAGON
Do you know what is the largest lizard? This lizard is called komodo. It lives in the scrub and woodland of a few Indonesian islands.
Komodo dragon is the world's heaviest lizard, weighing 150 pounds or more. The largest Komodo ever
measured was more than 10 feet (3 meters) long and weighed 366 pounds (166 kg) but the average size of
komodo in the wild is about 8 feet (2.5 meters) long and 200 pounds (91 kg).
Komodo has gray scaly skin, a pointed snout, powerful limbs and a muscular tail. They use their keen
sense of smell to locate decaying animal remains from several miles away. They also hunt other lizards as well
as large mammals and are sometimes cannibalistic.
The Komodo dragon's teeth are almost completely covered by its gums. When it feeds, the gums bleed,
creating an ideal culture for virulent bacteria. The bacteria that live in the Komodo dragon's saliva causes
septicemia, or blood poisoning, in its victims. A dragon will bite its prey, then follow it until the animal is too
weak to carry on. This lizard species is threatened by hunting, loss of prey species and habitat loss.
(http://animal.discovery.com/reptiles/komodo-dragon)

Teks laporan yang dicontohkan (7-2) di atas berisi laporan tentang dragon komodo secara umum. Walaupun di sini dragon komodo diuraikan menurut ciri-cirinya, ciri-ciri itu sangat umum
karena semua dragon komodo yang dimaksud mempunyai ciri-ciri umum yang sama. Ciri-ciri umum itu digunakan untuk membedakan dragon komodo dengan dragon dari kelas lain. Dengan demikian, ciriciri
umum inilah yang digunakan untuk membuat klasifikasi dragon komodo, yaitu antara lain: (1) dragon komodo adalah jenis binatang melata yang paling besar (the largest lizard), (2) dragon komodo
adalah jenis binatang melata yang paling berat (the heviest lizard), (3) dragon komodo hidup di hutan semak-semak di beberapa pulau di Indonesia, (4) dragon komodo mempunyai warna kulit abu-abu dan
bersisik (grey scaly skin), dan seterusnya, (5) hampir semua bagian giginya tertutup gusi, sehingga apabila binatang itu makan bianatang itu mengeluarkan darah yang memproduksi bakteri yang berfungsi
sebagai semacam air liur yang mengandung racun bagi musuhnya (dragon's teeth are almost completely covered by its gums, ... saliva causes septicemia, or blood poisoning, in its victims), dan seterusnya.

A.2.1.3 Prosedur
Teks prosedur adalah teks yang bersifat instruksional. Dalam kehidupan sehari-hari, teks prosedur dapat dijumpai pada manual cara mengoperasikan alat-alat elektronik, cara menelpon di telepon umum, cara memasak makanan berdasarkan resep khusus, atau berbagai tulisan tentang tata cara melakukan sesuatu.
Teks yang tergolong ke dalam genre ini mempunyai fungsi social untuk memberikan petunjuk mengenai cara mengerjakan sesuatu.
Petunjuk itu merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh agar pekerjaan itu dapat diselesaikan. Pada petunjuk pengerjaan sesuatu atau pengoperasian sebuah alat, langkah-langkah yang dimaksud
merupakan langkah-langkah bersyarat, yaitu langkah-langkah yang terdahulu menentukan langkah-langkah yang kemudian, sehingga apabila langkah-langkah itu tidak ditempuh secara urut, barang yang
dibuat itu tidak jadi atau alat yang dioperasikan tersebut tidak dapat beroperasi.

Teks prosedur mempunyai struktur teks sebagai berikut:
“Goal^Steps”. Secara linguistik, ciri-ciri utama teks prosedur adalah:
(1) Teks prosedur memanfaatkan Simple Present Tense.
(2) Teks prosedur lebih banyak memanfaatkan kata kerja material.
(3) Selain dengan perintah melalui klausa Imperatif, teks prosedur dapat dinyatakan dengan pasif.
(4) Partisipan pada teks prosedur adalah partisipan manusia. Adapun partisipan yang diberitahu untuk melakukan sesuatu adalah pembaca atau orang yang diajak bicara (you). Namun demikian,
apabila dinyatakan dalam pasif, biasanya pelakunya tidak disebutkan.
(5) Teks prosedur dapat memanfaatkan konjungsi yang menunjukkan urutan atau langkah, seperti first, second, next, then, dan finally.
(7-3) Contoh Teks Prosedur:

Goal
Steps

TO MAKE STAINED GLASS FIGURES
1. First you take a piece of cardboard and one piece of chalk.
2. Then you draw something on the cardboard.
3. Next you cut it out where you want light to go through.
4. Then use a texta to trace around the thing you drew.
5. Stick different colored cellophane paper over the areas that have a hole.
6. When you have finished this, stick it on the window.
(Diadaptasikan dari MEDSP, 1989)

Contoh teks prosedur (7-3) di atas berisi petunjuk tentang cara membuat gambar pada kaca. Terlihat bahwa terdapat 6 langkah yang harus ditempuh secara urut untuk mendapatkan gambar pada kaca
yang diharapkan (to make stained glass figures). Langkah-langkah itu (first, then, dan seterusnya) tidak dapat dilakukan secara acak. Apabila langkah-langkah tersebut tidak diikuti, gambar pada kaca tadi tidak
jadi. (Namun demikian, perlu dicatat bahwa pada genre lain, misalnya pada eksposisi atau diskusi, konjungsi seperti itu tidak digunakan untuk menentukan langkah-langkah, tetapi untuk mengorganisasikan gagasan).

A.2.1.4  Penceritaan

Teks penceritaan adalah teks yang berisi kegiatan atau peristiwa yang berlangsung di waktu lampau. Fungsi sosialnya adalah untuk mebangkitkan atau menghidupkan pengalaman nyata di masa lampau
agar tercipta semacam hiburan bagi pembaca atau pendengar. Dengan teks penceritaan, pencipta teks dapat berbagi pengalaman dengan pembaca atau pendengar.
Teks penceritaan disusun dengan tata organisasi “Orientation^Chronological Events^Reorientation”.  Pada struktur teks tersebut, “Reorientasi” merupakan tahap struktur yang bersifat pilihan.

Adapun ciri-ciri linguistik yang dominan adalah:
(1) Teks penceritaan berisi “siapa” (partisipan) melakukan “apa” (peristiwa) di suatu tempat di suatu waktu lampau. Partisipannya adalah manusia yang terlibat pada peristiwa tersebut. Pada contoh
di bawah ini, partisipan manusia yang dimaksud adalah antara lain: “we”, “Mr. Robinson”, dan “Mr. Moses”.
(2) Teks penceritaan lebih banyak memanfaatkan Past Tense untuk menyatakan peristiwa lampau. Tenses yang lain dapat digunakan, tetapi sangat jarang.
(3) Teks penceritaan lebih banyak mengandung kata kerja material untuk menunjukkan aktivitas atau perbuatan nyata yang dilakukan oleh partisipan.
(4) Teks penceritaan banyak memanfaatkan konjungsi temporal untuk menata urut-urutan peristiwa yang diceritakan. Pada contoh, konjungsi tersebut adalah, misalnya: “when”, “then”, dan “after”.

(7-4) Contoh Teks Penceritaan:
Orientation
Chronological
Events
Reorientation
(Optional)

THE FERRY TRIP
On Tuesday we went on a harbour cruise.
We went underneath the harbour bridge and then we went past some submarines.
When we got to Clifton Gardens we had a picnic. After we had finished we played on the climbings. Then Mr.
Robinson came over and said Mr. Moses was giving out frozen oranges. Then after we finished that we went
home. Although it was tiring, we were happy.
(Dimodifikasi dari Butt, Fahey, Feez, Spinks & Yallop, 2000: 18).

Teks (7-4) di atas adalah contoh teks penceritaan yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata tentang perjalanan dengan kapal ferry yang menyelusuri pelabuhan dan melewati kolong jembatan (Sydney
Harbour Bridge). Pencipta teks berbagi pengalaman dengan pembaca atau pendengar peristiwa yang terjadi. Diceritakan bahwa penyelusuran berakhir di Clifton Garden, dan setelah berbagai kegiatan dilakukan di sana, para partisipan pulang.

A.2.1.5 Eksplanasi
Teks eksplanasi adalah teks yang berisi penjelasan tentang keadaan sesuatu sebagai akibat dari sesuatu yang lain yang telah terjadi sebelumnya dan menyebabkan sesuatu yang lain lagi akan terjadi kemudian. Teks eksplanasi berkenaan dengan how things are as they are atau how things do as they do.
Teks eksplanasi mempunyai fungsi sosial untuk menjelaskan proses terjadinya sesuatu menurut prinsip-prinsip sebab-akibat. Untuk memenuhi fungsi tersebut, teks eksplanasi disusun dengan struktur
teks “General Statement^ Sequence of Logical Reasons”.

Adapun ciriciri linguistiknya yang utama adalah:
 (1) Teks eksplanasi berfokus pada pelaku bukan manusia secara umum.
(2) Teks eksplanasi lebih banyak mengandung Simple Present Tense, tetapi apabila pokok yang diterangkan dikaitkan dengan proses di waktu lampau, Simple Past Tense dapat digunakan.
(3) Teks eksplanasi lebih banyak menggunakan kata kerja material dan relasional.
(4) Teks eksplanasi memanfaatkan bentuk pasif untuk memberikan tekanan pada tema--yaitu pokok yang dibicarakan pada klausa yang biasanya diletakkan di bagian depan, bukan pelakunya.
(5) Teks eksplanasi menggunakan konjungsi temporal dan kausal, seperti as, when, after, since, because, so, dan therefore untuk menerangkan hubungan sebab akibat. Pada konteks ini, when dan after tidak digunakan untuk menerangkan waktu, tetapi untuk menjelaskan hubungan sebab akibat. Selain dengan konjungsi, hubungan sebab akibat juga dapat dinyatakan dengan kata kerja seperti cause, make, produce, result in, atau lead to.

(7-5) Contoh Teks Eksplanasi:

General
Statement
Sequence of
Logical
Reasons

HEALTH EFFECTS OF SYSTEMIC POISONS
Although the detrimental effects of systemic poisons such as lead have been known for many years, it
is only recently that cadmium and mercury have been recognised as equally damaging toxic agents. The
absorption of such metal toxins via the food chain is a common means of poisoning.
After emission from industrial smokestacks or car exhausts, gravity and rainfall return the toxic-containing
pollutants to earth. They may then be absorbed by plants in two possible ways. Where metal poisons have landed
in the surrounding soil, the plant’s root system absorbs them and distributes them throughout the plant’s tissues.
Toxins may also fall directly onto leaves and enter through stomata on the leaves. When vegetable matter
has been contaminated in this way and is subsequently ingested by humans or animals, the gastrointestinal tract
becomes the main pathway for the toxins’ entry into the bloodstream.
The intestinal section located between the upperbowel tract and the stomach is lined with many fingerlike
projections of mucous membrane, known as “villi”. The villi are surrounded by capillary blood vessels,
whose function is to absorb the products of digestion. Soluble poisons are rapidly absorbed by the villi into the
bloodstream. In the case of lead poisoning, this results in a wide variety of effects on the blood-forming
mechanism, the gastrointestinal tract and the central nervous system.
The passage of non-soluble poisons through the digestive system stimulates mucous-producing glands in
the stomach which may result in the expulsion of the toxins by vomiting or as fecal matter via the lower
intestine. The ingestion of non-soluble toxins is associated with fecal blood, diarchoea and constipation.
(Diambil dari Garbutt & O’Sullivan, 1991: 166-167)

Pada contoh teks eksploanasi (7-5) di atas, dapat digarisbawahi bahwa keberadaan racun di tubuh merupakan sebuah proses keracunan yang panjang yang berlangsung secara sistemik. Tahap-tahap pada
proses itu berhubungan secara sebab akibat. Mula-mula, emisi gas karbon dari industri atau mobil yang dibawa larut oleh air hujan ke bumi diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Akibatnya, manusia atau binatang yang memakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung racun itu juga teracuni melalui pencernaan dan aliran darah. Akibat berikutnya adalah mekanisme tubuh secara keseluruhan terpengaruh oleh racun di dalam tubuh tadi.

A.2.1.6 Eskposisi
Teks eksposisi adalah teks yang berisi gagasan pribadi atau usulan mengenai sesuatu. Teks eksposisi juga sering disebut argumentasi satu sisi. Dikatakan demikian karena pencipta teks ini mempertahankan gagasan atau usulannya berdasarkan argumentasi yang ia yakini benar tanpa membandingkannya dengan argumentasi dari pihak lain.

Terdapat dua macam eksposisi, yaitu eksposisi analitis dan eksposisi hortatoris. Sesuai dengan kedua jenis eksposisi tersebut,fungsi sosial teks eksposisi adalah untuk mengajukan argumentasi bahwa sesuatu itu benar adanya (untuk eksposisi analitis) atau bahwa sesuatu yang diusulkan itu harus dilakukan (untuk eksposisi hortatoris). Eksposisi analitis berkenaan dengan konsep atau teori tentang sesuatu, sedangkan eksposisi hortatoris berkenaan dengan tindakan yang perlu dilakukan atau kebijakan yang perlu dibuat.
Diterima atau tidaknya gagasan atau usulan tersebut oleh pihak lain bergantung kepada kuat atau tidaknya argumentasi yang diajukan.
Teks eksposisi disusun dengan struktur teks “Thesis Statement^Arguments^Reiteration”.
Sementara itu, ciri-ciri linguistic yang menonjol adalah:
(1) Teks eksposisi berisi pandangan pribadi penciptanya. Untuk itu, kata ganti “I” atau “we” dapat digunakan, terutama pada saat ia klaim mengenai sesuatu dibuat. Sebagain orang berpendapat bahwa penggunaan kata ganti “I” dan “we” sebaiknya dihindari pada teks ilmiah, tetapi pada konteks ini justru penggunaan kata ganti tersebut menunjukkan kekuatan klaim yang diajukan.
(2) Terkait dengan Nomor (1) di atas, leksis yang bersifat atitudinal sering digunakan, terutama pada eksposisi hortatoris.
(3) Teks eksposisi mencakup penggunaan kata kerja material, relasional, dan mental sekaligus. Kata kerja yang terakhir ini pada umumnya digunakan untuk mengajukan klaim, misalnya dalam klausa: I believe that … . atau I think … .
(4) Teks eksposisi memuat argumentasi satu sisi, dan jumlah argumentasi tidak ditentukan. Selain merupakan milik pencipta teks sendiri, argumentasi dapat dikembangkan dari pendapat umum yang diambil dari sumber lain, sepanjang sumber itu disebutkan sebagai referensi.
(5) Konjungsi yang banyak dijumpai pada teks eksposisi adalah konjungsi yang digunakan untuk menata argumentasi, seperti first, second, next, dan seterusnya; atau konjungsi yang digunakan untuk memperkuat argumentasi, seperti in fact, even, also, moreover, dan for example; atau konjungsi yang menyatakan
bubungan sebab akibat, seperti since, before (yang berarti in order not to).
(6) Teks eksposisi mengandung modalitas untuk membangun opini yang mengarah kepada saran atau anjuran.

 (7-6) Contoh Teks Eksposisi:
Thesis
Statement
Arguments
Reiteration

ACTIVITY CENTRES SHOULD BE BUILT
I think the Canterbury Council should construct more Activity Centres in most local areas.
Firstly, children can keep busy as well as have fun in the holidays. Secondly, they learn a lot about how to do
certain things. Finally, it might stop children vandalizing properties that don’t belong to them because they can go
to the Activity Centres.
During the school holidays, many children who don’t have much on their minds can attend their local Activity
Centre. It will keep them busy and they can also learn to do lots of things.Another reason is children can encourage others to attend the local Activity Centre. This way children will not get so bored because they can have lots of fun.
Moreover, it could stop children from vandalizing others’ properties because they have better things to do like going to the Activity Centre and having fun and enjoying themselves.
These are the main reasons why I think we should have more Activity Centres. They will be very educational and very good experience for lots of children.
(Diadaptasikan dari MEDSP, 1989)

Teks eksposisi yang dicontohkan (7-6) di atas adalah eksposisi hortatoris. Pencipta teks mengusulkan kepada Canterbury Council untuk membangun sejumlah activity centres untuk memberikan
tempat kepada anak-anak dalam beraktivitas. Usulan itu berupa pernyataan tesis, yang tidak lain adalah pentingnya pembangunan activity centres itu (Paragraf 1). Usulan tersebut didukung dengan tiga
argumentasi atau alasan yang dikemukakan pada Paragraf 2, yaitu:
(1) Firstly, children can keep busy as well as have fun in the holidays;
(2) Secondly, they learn a lot about how to do certain things; dan
(3) Finally, it might stop children vandalizing properties that don’t belong to them because they can go to the Activity Centres.

Ketiga alasan tersebut kemudian diperluas pada Paragraf 3, 4, dan 5. Berdasarkan argumentasi tersebut, pencipta teks mengulangi kembali pentingnya usulan itu pada paragraf terakhir.

A.2.1.7 Diskusi
Teks diskusi adalah teks yang berisi isu atau kontroversi mengenai sesuatu. Isu tersebut ditanggapi dari dua sisi argumentasi.  Karena itu, teks diskusi juga sering disebut teks argumentasi dua sisi.
Pada dasarnya, diskusi adalah gabungan dari dua eksposisi yang masing-masing mewakili sudut pandang yang berbeda. Fungsi sosial teks diskusi adalah untuk menyatakan kontroversi sebuah isu dari dua sudut pandang. Meskipun kedua sudut pandang itu dibeberkan secara seimbang, pencipta teks dapat berdiri di salah satu sudut pandang atau bersikap netral terhadap isu yang dimaksud.
Apabila pencipta teks berada di salah satu sisi, pembaca atau pendengar diharapkan mengikutinya, tetapi apabila ia bersikap netral, pembaca atau pendengar diberi kebebasan untuk memilih sendiri sudut pandang yang dianggap benar.

Teks diskusi disusun dengan struktur teks “Statement of theIssue^Argument for^Argument against^Conclusion/Recommendation”.
Secara umum, ciri-ciri linguistik teks diskusi hampir sama dengan teks eksposisi. Sebagian di antaranya adalah:
(1) Teks diskusi lebih banyak menggunakan Simple Present Tense.
(2) Teks diskusi mengandung kata kerja material, relasional, dan mental sekaligus.
(3) Teks diskusi menggunakan modalitas untuk membangun opini atau rekomendasi.
(4) Konjungsi yang menonjol pada teks diskusi adalah konjungsi yang menunjukkan kontras, seperti but, however, on the other hand, dan in contrast. Konjungsi seperti itu digunakan untuk mempertentangkan dua gagasan yang berlawanan yang mewakili masing-masing sudut pandang. Konjungsi yang lain adalah
konjungsi temporal dan konjungsi sebab-akibat.

 (7-7) Contoh Teks Diskusi:
Statement of
the Issue
Argument for
Argument
Against

USING NUCLEAR ENERGY SHOULD BE AVOIDED FOR THE SAKE OF
ENVIRONMENTAL SAFETY

Nuclear energy is commonly offered as an alternative to overcome the crisis of energy. The debate whether the
use of nuclear energy is an appropriate choice has notcome to an end. Some people agree with the utilization
of it because of its benefits. Some others, however, disagree because of its risks to environment. For the sake
of the environmental safety, nuclear energy should be avoided.
Those who agree with the operation of nuclear reactors usually argue that the energy produced from them can be used for multipurposes. The reactors can produce radioisotopes utilized in medical, industrial, and agricultural fields. They also claim that nuclear energy is the only feasible choice to answer the ever-increasing energy needs. According to them, the other sources of energy: oil, coal, and liquid natural gas are not renewable and safe, while nuclear energy can be sustainably produced in a safe way.
Some government officials also point out that this kind of energy is the safest one in response to environment compared to the non-renewable ones mentioned above. They claim that the reactor operates on a “zero-release” basis, which means that waste materials are processed so that none will be released into the environment. In addition, they believe, nuclear energy will never cause pollution, but the others, especially oil and coal, really do.
However, people disagreeing with the use of nuclear energy, on the other hand, keep criticizing that to choose
it as the best alternative to overcome the growing energy needs is silly. The silliness can be seen from the question
why they are interested in nuclear power when there is still an abundance of natural energy sources: oil, coal,
hydroelectric, thermal, etc.

Conclusion/Recommendation
In reaction to environment, they add that the operation of the nuclear reactors does not make any
sense. Some NGOs specializing in efforts to save environment argue that their waste products completely
destroy environment and human lives. On the other hand, it is true that the other kinds of energy like oil and coal
support the environmental pollution, but their contributions can still be tolerated. It is also true that the
nuclear reactors provide energy in great quantities, but their contributions to destroy environment and lives
cannot be avoided. A meltdown in a reactor, for example, results in a contamination of soil and water
under its core, making human lives impossible for miles around. The reactor is also dangerous to lives because of
its radiation leaking. In this case, it is often said that under a good control no fission products are allowed to
leak out from the reactor. But who can guarantee this?
It is obvious that nuclear energy should be avoided because it endangers environment. If we continue using
it, while the radiation is very poorly controlled, then it will kill ourselves sooner or later. The government
should pay much attention to the fact and revise the choice.
(Diambil dari Wiratno, 2003: 70-71)

Contoh teks diskusi (7-7) di atas menyajikan isu bahwa terdapat pertentangan pendapat mengenai dioperasikannya energi nuklir. Pihak yang setuju berpendapat bahwa energi nuklir mendatangkan manfaat
di berbagai bidang (Paragraf 2). Selain itu, energi nuklir juga dapat diperbarui dan aman dari polusi (Paragraf 3). Sebaliknya, pihak yang tidak setuju berpendapat bahwa energi nuklir adalah pilihan yang
bodoh, karena pilihan energi lain seperti energi gelombang laut, energy panas bumi, dan energi angin masih sangat banyak (Paragraf 4). Di pihak lain, meskipun dinyatakan aman, kenyataannya energi nuklir
sangat berbahaya dan menimbulkan polusi jika terjadi kebocoran (Paragraf 5).

Pada Contoh (7-7), pencipta teks berdiri pada pihak yang tidak setuju. Atas dasar pertimbangan keselamatan lingkungan, ia mengusulkan kepada pemerintah agar merevisi keputusan untuk
mengoperasikan energi nuklir (Paragraf 6).

A.2.1.8 Eksplorasi
Teks eksplorasi adalah teks yang melaporkan aktivitas eksplorasiyang sedang berjalan. Eksplorasi dilakukan terhadap sesuatu yang masih asing atau sesuatu yang belum diketahui dengan jelas.
Mengingat teks eksplorasi disusun bersamaan dengan kegiataneksplorasi yang sedang berlangsung, pada bagian ini contoh teks semacam itu tidak disajikan.

A.2.2 Genre Cerita
Seperti telah dinyatakan di atas bahwa genre cerita adalah genre rekaan. Isi teks tidak didasarkan pada kenyataan yang sesungguhnya. Contoh (7-8) sampai dengan Contoh (7-10) disusun dari rekaan yang
sama, yaitu terhalangnya jalan untuk keluar mobil di depan rumah oleh mobil lain yang diparkir di situ. Perbedaan terletak pada struktur teks yang digunakan.

A.2.2.1 Penceritaan
Teks penceritaan pada genre cerita sama dengan teks penceritaan pada genre faktual. Perbedaannya terletak pada isi yang dimuat. Di bawah genre faktual, teks penceritaan didasarkan pada peristiwa
nyata, tetapi di bawah genre cerita, teks penceritaan didasarkan pada peristiwa dalam khayalan.
Karena pada dasarnya kedua genre penceritaan tersebut sama, struktur teks dan ciri-ciri linguistiknya pun juga sama. Untuk itu, Anda dapat melihat kembali pembicaraan tentang teks penceritaan pada genre faktual di atas.

(7-9) Contoh Teks Penceritaan:
Orientation
Records/
Events
Reorientation

Just another one of those days. The neighbors a couple of houses down had a party last night; they came and
warned us and it wasn’t too bad really. Woke Jane up a couple of times.
Anyhow we got up the next day and packed up the car to take Jane back but we opened the gate there was a
car blocking half of our driveway – not surprising  given the sound of things the night before. What a
bugger. I checked with the neighbors, but they didn’t know whose car it was so I phoned the cop. When they
came they said they couldn’t do anything except give it a ticket. Completely useless. In any case we manage to
fill in between the road and curb with rubble and just sneaked the car through – bit of a pain, but no too bad.
Finally we got Jane back to her mother’s and came home to do some work. Bloody car is still there too.
(Diambil dari Martin, 1992: 566)

A.2.2.2 Anekdot
Teks anekdot adalah teks rekaan yang berisi peristiwa yang membuat jengkel atau konyol bagi partisipan yang mengalaminya. Secara interpersonal, perasaan jengkel dan konyol seperti itu merupakan krisis yang ditanggapi dengan reaksi dari pertentangan antara aman/tidak aman, puas/frustrasi, dan tercapai/gagal. Struktur teks anekdot adalah “Abstract^Orientation^Crisis^Reaction^Coda”.

(7-10) Contoh Teks Anekdot:
Abstract
Orientation
Crisis
Reaction
Coda

I had an embarrassing moment this morning. The neighbors a couple of houses down had a party last night; they came and warned us and it wasn’t too bad really. Woke Jane up a couple of times. Then this morning there was a car parked across our driveway. I figured it must have been someone from the party so went down to knocked on their door. I knocked and knocked but no-one came. I figured they were hungover and sleeping in so I kept on banging really loudly – door, window, everything within reach. Finally this guy crawled out of bed and opened the window. I explained the problem but it turned out it wasn’t his party. The house was divided into flats and it was the people out the back.
He wasn’t too pleased, especially after having been kept up half the night by his neighbors!
I still don’t know whose car it was.
(Diambil dari Martin, 1992: 566-567)

A.2.2.3 Eksemplum
Teks eksemplum adalah teks rekaan yang berisi insiden yang menurut partisipannya tidak perlu terjadi. Secara interpersonal, partisipan menginginkan insiden itu dapat diatasi, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Struktur teksnya adalah “Abstract^Orientation^ Incident^ Interpretation^Coda”.

(7-11) Contoh Teks Eksemplum:
Abstract
Orientation
Incident
Interpretation
Coda

I had a crazy experience this morningThe neighbours two house down had a party last night; they came and warned us and it wasn’t too bad really. Woke Jane up a coupe\le of times. Then this morning there was a car parked across our driveway. I figured it must have been someone from the party so went down to knocked on their door; but it wasn’t anyone they knew. I tried a few other houses and then phoned the cops, thinking they’d come and tow it
away. Anyhow, they came quickly enough but when they got there they said all they could so was give it a ticket; they couldn’t tow it away because it wasn’t in a tow-away zone!
That seemed just crazy to me; I mean someone can park in your driveway and block your car in for days and
there’s nothing you can do about it. You just have to wait until they come back and drive away. If you open their
car to move it you’re breaking in! Crazy.  Bloody car is still there too.
(Diambil dari Martin, 1992: 567)

A.2.2.4 Naratif
Teks naratif adalah teks rekaan yang berisi komplikasi yang menimbulkan masalah yang memerlukan waktu untuk melakukan evaluasi agar dapat memecahkan masalah tersebut. Teks naratif pada
umumnya dijumpai pada dongeng, hikayat, cerita pendek, atau novel.

Struktur teksnya adalah “Abstract^Orientation^Complication^
Evaluation^Resolution^Coda”.

(7-12) Contoh Teks Naratif:
Abstract
Orientation
Complication
Evaluation
Resolution
Coda

CINDERELLA
Once upon a time, there was a young girl named Cinderella. She lived with her step mother and two step
sisters. The step mother and sisters were conceited and bad tempered. They treated Cinderella very badly. Her step
mother made Cinderella do the hardest works in the house; such as scrubbing the floor, cleaning the pot and
pan and preparing the food for the family. The two step sisters, on the other hand, did not work about the house.
Their mother gave them many handsome dresses to wear.
One day, the two step sister received an invitation to the ball that the king’s son was going to give at the
palace. They were excited about this and spent so much time choosing the dresses they would wear. At last, the
day of the ball came, and away went the sisters to it. Cinderella could not help crying after they had left.
“Why are you crying, Cinderella?” a voice asked. She looked up and saw her fairy godmother standing
beside her, “because I want so much to go to the ball” said Cinderella. “Well” said the godmother,”you’ve been
such a cheerful, hardworking, uncomplaining girl that I am going to see that you do go to the ball”. Magically, the fairy godmother changed a pumpkin into a fine coach and mice into a coachman and two footmen. Her godmother tapped Cinderella’s raged dress with her wand, and it became a beautiful ball gown. Then she gave her a pair of pretty glass slippers. “Now, Cinderella”, she said; “You must leave before midnight”.
Then away she drove in her beautiful coach. Cinderella was having a wonderfully good time. She
danced again and again with the king’s son. Suddenly the clock began to strike twelve, she ran toward the door as
quickly as she could. In her hurry, one of her glass slipper was left behind.
A few days later, the king’ son proclaimed that he would marry the girl whose feet fitted the glass slipper.
Her step sisters tried on the slipper but it was too small for them, no matter how hard they squeezed their toes
into it. In the end, the king’s page let Cinderella try on the slipper. She stuck out her foot and the page slipped
the slipper on. It fitted perfectly.
Finally, she was driven to the palace. The king’s son was overjoyed to see her again. They were married and live happily ever after.
(Dimodifikasi dari: http://understandingtext.blogspot.com/ search/label/Narrative)

B. Genre dalam Perbandingan
Telah diketahui bahwa setiap genre yang diuraikan di atasmemiliki ciri-ciri linguistik sendiri-sendiri. Ciri-ciri itu menjadi pembeda antara genre yang satu dan genre yang lain. Pada bagian ini,
Anda diajak untuk mempertajam perbedaan-perbedaan tersebut dengan membanding-bandingkan genre-genre tersebut, terutama genre-genre faktual.

Tabel 7-1. Genre dalam Perbandingan
social
goal
activities
(-)
generalization
(+)
generalization:
document
explain:
resolve
debate
unstructured
activities (-)
description report explanation discussion
structured
activities (+)
recount procedure exposition exploration
(Dimodifikasi dari Martin, 1992: 563)

Seperti tersaji pada Tabel 7-1, perbedaan-perbedaan itu dilihat dari fungsi atau tujuan sosialnya dan dari struktur teks atau aktivitasnya. Terlihat bahwa dari segi tujuan sosial, teks laporan danteks prosedur lebih menuju kepada generalisasi (+), sedangkan teks deskripsi dan teks penceritaan lebih bersifat khusus (-). Di pihak lain, dari segi struktur teks, teks deskripsi dan teks laporan memiliki aktivitas yang kurang terstruktur (-), sedangkan teks penceritaan dan teks prosedur memiliki aktivitas yang lebih terstruktur (+).
Sementara itu, teks eksplanasi dan teks eksposisi mempunyai tujuan sosial untuk menjelaskan dan memberikan pemecahan masalah, sedangkan teks diskusi dan eksplorasi mempunyai tujuan sosial yang
mengandung unsur perdebatan atau kontrovesi. Di pihak lain, dari segi struktur teks, aktivitas pada teks eksplanasi dan teks diskusi kurang terstruktur (-), sedangkan aktivitas pada teks eksposisi dan teks
eksplorasi lebih terstruktur (+).
1. Jelaskan pengertian genre makro dan genre mikro.
2. Jelaskan hubungan antara genre makro dan genre mikro
3. Jelaskan apa yang membuat genre yang satu berbeda dengan genre yang lain.
4. Apa perbedaan antara deskripsi dan laporan?
5. Jelaskan perbedaan antara eksposisi analitis dan eksposisi hortatoris.

Petunjuk Jawaban Latihan
Agar Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda dianjurkan membaca kembali uraian pada Kegiatan Belajar 2 sambil mencari jawaban-jawaban yang diminta, khususnya bagian-bagian
yang belum Anda mengerti secara jelas. Bandingkan jawaban Anda dengan jawaban teman-teman Anda.

LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Sebagai jenis teks, genre dapat diklasifikasikan menjadi genre makro dan genre mikro di satu sisi, serta genre faktual dan genre rekaan di sisi lain. Nama genre makro sebuah teks diambil dari genre yang
paling menonjol dalam teks tesebut. Genre makro merupakan genre induk yang di dalamnya mungkin terdapat beberapa genre mikro.
Misalnya, teks editorial sebagai genre makro mungkin mengandung genre mikro seperti deskripsi atau eksplanasi. Mungkin pula secara keseluruhan, editorial hanya berupa eksposisi atau diskusi.
Setiap teks yang tergolong ke dalam sebuah genre mempunyai tujuan sosial atau fungsi sosial. Untuk itu, teks tersebut perlu disusun dengan struktur teks dan ciri-ciri linguistik yang sesuai dengan genre yang dimaksud.

1) Genre faktual adalah genre:
A. yang didasarkan pada kenyataan dan rekaan.
B. yang didasarkan pada kenyataan.
C. yang didasarkan pada rekaan.
D. yang didasarkan pada ciri-ciri linguistiknya.

2) Salah satu perbedaan antara teks deskripsi dan teks laporan adalah:
A. teks deskripsi bersifat umum, sedangkan teks laporanbersifat khusus.
B. teks laporan bersifat umum, sedangkan teks deskripsi bersifat khusus.
C. baik teks deskripsi maupun teks laporan bersifat umum.
D. baik teks deskripsi maupun teks laporan bersifat khusus.

RANGKUMAN
TES FORMATIF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
3) Teks yang berisi keadaan tentang sesuatu yang disebabkan oleh
keadaan sebelumnya dan menyebabkan keadaan sesudahnya
tergolong ke dalam genre:
A. deskripsi.
B. laporan.
C. eksposisi.
D. eksplanasi.

4) Teks eksposisi juga disebut teks:
A. analitis.
B. hortatoris.
C. argumentasi dua sisi.
D. argumentasi satu sisi.

5) Naratif dapat berbentuk:
A. artikel ilmiah.
B. laporan penelitian atau survey.
C. dongeng atau cerita pendek.
D. Berita dalam koran.

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Tingkat penguasaan =
Jumlah Jawaban yang Benar
100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda
dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di
bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2,
terutama bagian yang belum dikuasai.

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1) A. menyatakan klasifikasi tentang sesuatu.
2) A. jenis-jenis teks.
3) B. konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya teks.
4) B. Martin.
5) C. jenis-jenis teks berkembang dalam hal variasi dan struktur
teksnya.
Tes Formatif 2
1) B. yang didasarkan pada kenyataan.
2) B. teks laporan bersifat umum, sedangkan teks deskripsi
bersifat khusus..
3) D. eksplanasi.
4) D. argumentasi satu sisi.
5) C. dongeng atau cerita pendek.
l BING 4214/MODUL 2 7.35

Daftar Pustaka
Abbs, B. & Freebain, I. (1985). Developing Strategies. Essex: Longman.
Bhatia, V.K. (2004). Worlds of Written Discourse: A Genre-Based View. London & New York: Continuum.
Breure, L. (2001). “Development of the Genre Concept” [http://www.cs.uu.nl/people/leen/GenreDev/GenreDevelopment.
htm], 5/2/2007. Butt, D., Fahey, R., Feez, S., Spinks, S., Yalop, C. (2000). Using
Functional Grammar, 2nd Ed. Sydney: National Centre for English Language Teaching and Research, Macquarie University.
Garbutt, M & O’Sullivan, K. (1991). IELTS: Strategies for Study Reading, Writing, Listening, and Speaking at University and College. Sydney: National Centre for Foreign Language
Teaching and Research, Macquarie University. Halliday, M.A.K. & Hasan, R. (1985). Language, Context, and Text: Aspects of Language in a Social-semiotic Perspective.Victoria: Deakin University Press.
http://animal.discovery.com/reptiles/komodo-dragon.
http://understandingtext.blogspot.com/search/label/Narrative.
Hymes, D. (1972). “Models of the Interaction of Language and Social Life”. J.J. Gumperz & D. Hymes, Eds., Directions in Sociolinguistics. New York: Holt, Rinehart and Wiston, Inc.
Hyland, K. (2004). Genre and Second Language Writing. Michigan: The University of Michigan Press.
Lee, D.Y.W. (2001). “Genres, Registers, Text Types, Domains, and Styles: Clarifying the Concepts and Navigating a Path through the BNC Jungle”, Language Learning & Technology, 5/3.
Martin, J.R. (1985a). “Process and Text: Two Aspects of Human Semiosis”, Benson, J.D. & Greaves, W.S. (Eds.), Systemic Perspectives on Discourse, Vol 1. Norwood, N.J.: Ablex Publishing Corporation.
Martin, J.R. (1985b). Factual Writing: Exploring and Challenging Reality. Geelong, Victoria: Deakin University Press.
Martin, J.R. (1986). “Grammaticalising Ecology: The Politics of Baby Seals and Kangaroos”, Threadgold, T., et.al. (Eds.), Semiotics-- Ideology--Language. Sydney: Sydney Association for Studies in
Society and Culture.
Martin, J. R. (1992). English Text: System and Structure. Philadelphia/Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
Martin, J.R. & Rose, D. (2003). Working with Discourse. London & New York: Continuum.
Martin, J.R. & White, P.R.R. (2005). The Language of Evaluation: Appraisal in English. New York: Palgrave Macmillan.
Thompson, G. (2004). Introducing Functional Grammar. London: Arnold.
Swales, J. (1990). Genre Analysis: English in Academic and Research Settings. Cambridge: Cambridge University Press.
Ventola, E. (1988). “The Logical Relations in Exchanges”. J. Benson & W. Greaves (Eds.), Systemic Functional Approaches to Discourse. Norwood, N. J.: Ablex Publishing Corporation.
Wiratno, T. (2003). Kiat Menulis Karya Ilmiah dalam Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wiratno, T. (2009). Makna Metafungsional Teks Ilmiah dalam Bahasa Indonesia pada Jurnal Ilmiah: Sebuah Analisis Sistemik Fungsional (Disertasi). Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.